Rabu, 18 Agustus 2010
...
Ari ini g bener2 emosi jiwa dan kesel bgt.sprtny apa yg g lakuin salah semua.baik dikelas,pertemenan dan komunitas g yg slh.apa itu penerimaan,itu semuanya omong kosong.taunya teori tanpa praktek.bagi mrk g itu org yg ga bisa diatur dan keras kepala.g akui g keras,cuek tapikan ad sebabnya.sadar ga seh kalo mrk jg sprt itu.taunya ngatur apa mauny mrk.tanpa sadar mrk membuat g jd monter.mrk ga mo tau perasaan g bs terima apa ga yg mrk gomong itu.seakan mrk tau baik buruknya g.kesel...kesel...boring bgt
Rabu, 11 Agustus 2010
acceptance....
Senin, 26 Juli 2010
아빠 사랑해
....떰떰떰떰떰....떰 떰떰떰떰
..떰떰떰떰떰떰떰떰.. ......떰떰
떰떰떰떰떰떰떰떰떰.. ......떰떰
떰떰떰떰떰떰떰떰떰�. ...떰떰땝
떰떰떰떰떰떰떰떰떰� ..떰떰�..
....떰떰떰떰떰떰떰떰 떰떰�
..........떰떰떰떰떰 떰떰떰
..............떰떰떰 떰떰떰땝
..................떰 떰떰떰
.................... ..떰떰
JESUS CHRIST, I ♥ U so much...
Jumat, 02 Juli 2010
own ...
Rabu, 14 April 2010
hope....
arbitrarily when people insult me, you defend me
when there is no place for me to go You provide
You're always there when I needed you
when the night away there must have been waiting for morning
your love for me as well as never-ending
when the rain soaked earth, there is still enlightening day rainbow
Thus also hope that you give in my heart
Senin, 12 April 2010
GEREJA ORTHODOX SYRIA versi BAMBANG NOORSENA
beltazar:
Bambang Noorsena berusaha menjembatani kebuntuan antara Islam dan Kristen dengan menawarkan penjelasan Kristen Timur (Syria). Kristen Syria bukanlah Kristen pecahan dari Barat (Katholik) seperti Kristen Protestan.
salah satu buku terbitan Bambang Noorsena adalah mengenai asal usul nama Allah.
menurut saya buku ini sangat menarik dan membuka wawasan.
Quote
Bambang Noorsena (lahir di Ponorogo, 31 Maret 1960) adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies(ISCS). Sejak akhir 1997, setelah mempelajari dari dekat gereja-gereja Arab di beberapa negara di Timur Tengah, ia menawarkan kekristenan Syria sebagai wacana dalam menembus “kebuntuan dialog teologis Kristen-Islam”.
Hasilnya, sebuah “kejutan kultural” menghiasi hampir semua media massa di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini. Selain menyerukan “pertobatan budaya” di gereja-gereja yang mengundangnya, intelektual Kristen yang menolak menjadi pendeta ini juga memberikan ceramah di forum-forum kajian Islam.
Sehari-harinya, Bambang Noorsena bekerja sebagai dosen di Universitas Kristen Cipta Wacana (UKCW) Malang. Selain aktif di forum-forum dialog antar iman, ia kini menjadi salah seorang anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace(ICRP).
beltazar:
ternyata upaya bung Bambang Noorsena tidak mudah, walaupun Kristen Syria bisa dikatakan adalah salah satu ajaran yang mempengaruhi Muhammad dalam menciptakan Islam.
berikut ini adalah cuplikan tuduhan terhadap bung Bambang dari sebrang
Quote
Bambang Noorsena dan Penyesatan Tersembunyi
Kamis, 03 Maret 2005
Efram Bar Nabba Bambang Norsena, penginjil Kanisah Ortodoks Syiria (KOS) menulis superioritas Yesus atas Muhammad lewat ide Nur Muhammad. Tapi haditsnya banyak yang palsu Oleh
Qosim Nursheha Dzulhadi *)
Buku Bambang Noorsena, seorang tokoh Kanisah Ortodoks Syiria (KOS) Indonesia berjudul, “Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam” (2001) yang diterbitkan oleh Yayasan ANDI, Jln. Beo 38-40 Yogyakarta 55281 sangat menarik untuk ditelaah kembali.
Meski sudah lama terbit, namun ada hal penting yang perlu dikritisi. Karena hal ini menyangkut hal yang paling krusial dalam Islam, akidah. Pada bab V dari bukunya tersebut Bambang menulis tentang ”Isa Terang Dunia dan Nur Muhammad Dalam Tasawuf Islam.”
Pertama kali penulis akan mengutip pernyataan beliau dalam bukunya tersebut: “Dzalika al-Nur aladdzi kana qabla al-’alam, wa al-Hikmat al-asasiyat al-’Aqliyat al-kaanahu qabla al-Duhr, wa al-Kalimat al-Hayy, al-kainu ma’a al-’Abi min al-’abad’i, alladdzi huwa Allah, al-mauludu al-’Awwal al-wahid min Allah, al-kainu qabla kulla khaliqat.” (Itulah Nur atau cahaya yang sudah ada sebelum alam semesta diciptakan, hikmat dan akal Ilahi yang sudah ada sebelum zaman-zaman, yaitu Firman yang hidup, yang bersama-sama dengan Bapa sejak kekal. Ia adalah Allah sendiri. Karena firman itu satu-satunya yang keluar dari Allah dan pertama dilahirkan-Nya, sudah ada sebelum segala diciptakan). [Eusebius al-Qaisari, Tarikh al-Kanisah I, 2].
Ia menyatakan bahwa ungkapan sejarawan gereja, Eusebius dari Kaisare (wafat tahun 340) kutip di atas, diterapkan bagi Isa al-Masih. Seperti ditekankan dalam Injil bahwa sebagai Firman Allah (Logos), Isa disebut juga “hikmat, ‘akal Allah”, dan “al-Nur al-ladzi kan qabla al-’alam” (Cahaya yang sudah ada sebelum alam sekalian).
Sepintas lalu orang langsung teringat dengan paham tasawuf Islam mengenai “Nur Muhammad”. Apalagi ucapan Bapa gereja di atas kita kutip dari bahasa Arab. Dalam tasawuf Islam (Sufi) dikenal ide logos yang diciptakan sebagai permulaan ciptaan Allah. Ide itu dikenal dengan “Nur Muhammad” (cahaya Muhammad).
Disebutkan dalam sebuah hadits, “Awwalu ma khuliqa nuriy, wa fi riwayatin ruhiy (Permulaan dari ciptaan Allah adalah nur Ku, atau dalam riwayat lain sebagai ruh Ku).
Sampai di sini mulai jelas perbedaannya bahwa meskipun “Nur Muhammad” dalam keyakinan tasawuf juga bersifat pra-ada (pre-existence), tetapi ia tetap sebagai ciptaan (al-makhluk). Sedangkan dalam Kristen, khususnya seperti ditegaskan dalam Injil, Yesus sebagai “Sabda Allah” sama-sama kekal dengan dzat Allah sendiri. Karena itu, “Sabda Allah” itu ghayr al-makhluq (bukan ciptaan), demikian beliau menyimpulkan.
Sejatinya, hadits yang dikutip oleh Bambang Noorsena di atas adalah hadits palsu. Sementara penulis menyimpulkan dua hal, pertama, Bambang Noorsena tidak melakukan check and recheck atas sanad dan matan hadits tersebut. Kedua (namun penulis masih ber-husnudzdzann) ada pragmatisme di balik pengutipan hadits tersebut.
Sedangkan hadits-hadits lain yang dikutip oleh Bambang Noorsena (hlm. 67), seperti; (1) Kuntu nabiyyan wa Adamu bainal ma’i wa al-turab (Aku adalah nabi ketika Adam berada antara air dan tanah), (2) Ana min Allah wa al’alam minniy (Aku dari Allah dan alam dariku), dan hadits yang menyatakan; (3) Lau laka ma khuliqa al-kaun (Jikalau bukan karena engkau ya Muhammad, niscaya tidak kujadikan segala yang ada). Seluruhnya, juga hadits palsu (al-mawdhû`).
Validitas Hadist
Dalam Islam, banyak terdapat jenis hadits. Mulai hadits shahîh, hasan, dha`îf, mu`dhal, mu`allaq, dan banyak lagi. Termasuk di dalamnya hadits palsu itu. Dalam mengamalkan hadits-hadits Rasulullah saw, umat Islam tidak bisa sembarangan.
Hadits harus benar-benar diteliti validitasnya. Sehingga para ulama ahli hadits, banyak memberikan kontribusi besar dalam memberikan petunjuk kepada umat Islam, agar mereka mampu memilah dan memilih mana hadits Nabi saw yang bisa diamalkan dan tidak bisa diamalkan, karena memang tidak berasal dari Nabi Muhammad saw.
Karena itulah dikenal ilmu-ilmu yang berbicara tentang hadits Rasulullah, seperti ilmu Musthalah al-Hadîts, `Ilm al-Jarh wa al-Ta`dîl –yang banyak memberikan concern kepada para sanad hadits– apakah orangnya adil atau tidak, dhâbith atau tidak. Termasuk ilmu Takhrîj al-Hadîts dan sebagainya. Dari ilmu tentang hadits inilah kita dapat membedakan dan mengetahui bahwa tidak semua hadits nabi berasal dari beliau.
Hadits-hadits tentang “Nur Muhammad” di atas, kenapa dikatakan palsu (al-mawdhû`?) Hal ini akan dapat kritisi dari tiga sisi; pertama, dari segi matan hadits. kedua, segi sanad dan ketiga, dari sisi hadits-hadits yang senada.
Dari sisi matan, hadits-hadits tersebut sangat bertentangan dengan teks Al-Qur’an. Para ulama memberikan kaidah bahwa setiap hadits yang bertentangan dengan Al-Qur’an, maka hadits itu ditolak, bukan sebaliknya.
Hadits tentang “Nur Muhmmad” di atas, Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam men-takhrij hadits-hadits yang terdapat di dalam buku Syarh al-Mawâqif berkata, “Saya tidak menemukan lafazh seperti ini.”
Dalam mengomentari hadits yang senada dengan itu, dalam buku Jâmi` al-Turmudzi (karya Imam al-Turmudzi) menjelaskan hadits; “Pertama kali yang diciptakan oleh Allah adalah al-Qalam (pena di Lauh al-Mahfûzh), beliau berkata; “Hadits ini tidak dikenal dengan lafazh yang seperti ini.
Dengan demikian ia tidak dikenal dengan lafazhnya (Dr. Muhammad bin Muhammad Abû Syahbah, al-Wadh`û fî al-Hadîts, 2003: 239).
Jika hadits tentang ide “Nur Muhammad” di atas kita afirmasi, maka akan terjadi kontradiksi dengan hadits al-Qalam (pena) di atas. Karena keduanya sama-sama makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt. Lalu mana yang akan dibenarkan oleh umat Islam?.
Palsu dan Bertengan
Senada dengan hadits yang disebutkan oleh Bambang di atas (Awwalu mâ khalaqa Allâhu nûrî,wa fî riwâyatin rûhî), sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Muhammad bin Muhammad Abû Syahbah, adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dengan maknanya, yaitu yang diriwayatkan dari `Abdul Razzâq dengan sanad-nya dari Jâbir bin `Abdullâh, ia berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, demi bapakku, dirimu dan ibuku, beritahukan kepadaku sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah sebelum segala sesuatu (yang ada) diciptakan!” Rasulullah menjawab: “Hai Jâbir! Allah telah menciptakan nur (cahaya) nabimu dari cahaya-Nya, sebelum (Ia) menciptakan segala sesuatu. Kemudian nur itu berputar dengan kekuatannya kemana ia mau…dan seterusnya.
Hadits yang senada dengan: “Kuntu nabiyan wa Adamu baina al-ma’i wa al-turab” adalah hadits yang berbunyi: “Kuntu nabiyan wa Adamu baina al-mâ’i wa al-thîn” (Aku telah menjadi seorang nabi ketika Adam berada antara air dan tanah).
Al-Suyuthi juga menyatakan bahwa hadits ini tidak dikenal dengan bunyi lafazh-nya yang demikian, apalagi jika ditambahi: “Wa kuntu nabiyan wa lâ Adama wa lâ thîna” (Aku telah menjadi seorang nabi, dimana belum ada Adam dan tanah).
Ibnu Taimiyah telah berfatwa bahwa kedua lafazh hadits di atas adalah batil, keduanya merupakan kebohongan (al-kadzib). Hal ini juga disepakati oleh al-Suyuthi di dalam bukunya Dzail al-Lâlî al-Mashnû`ah. Begitu juga dengan al-Sakhâwî di dalam Fatawâ-nya; beliau menajawab berdasarkan pada ucapan Ibnu Taimiyah dalam membatilkan kedua lafazh hadits tersebut.
Beliau berkata: “Berhati-hatilah dalam menalaah dan menghapal hadits-hadits (yang lafazhnya) seperti itu. Aku menyatakan bahwa terdapat hadits-hadits yang sesuai (dengan) itu dan yang tidak sesuai” (Ibid: 239-240).
Dari segi sanad, hadits-hadits tersebut tidak memiliki sanad yang valid. Dalam ilmu hadits, hadits yang tidak memiliki sanad adalah hadits mawdhû` alias palsu.
Kemudian, ulama Islam telah menetapkan bahwa jika sebuah matan hadits bertentangan dengan teks (nash) Al-Qur’an, maka yang dikedepankan adalah Al-Qur’an, bukan hadits. Hadits-hadits yang berbicara tentang ide “Nur Muhammad” seluruhnya bertentangan dengan ayat Al-Qur’an.
Beberapa kontradiksi yang disampaikan Bambang Noorsena dapat ditelusuri dari beberapa kutipan Al-Qur’an di bawah ini.
Pertama, Surat Al-Kahfi: 110 menyatakan, “Katakanlah (hai Muhammad)! Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu…” Juga firman Allah, “Dan ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (QS. Shâd: 71). (Qs. Al-Kahfi: 110).
Kedua, hadits yang menyatakan, “Awwalu mâ khalaqa Allâhu nûra nabiyyika yâ Jâbir” (Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya Nabimu wahai Jabir”). Ini jelas hadits palsu (Muhammad bin Jamil Zainu, al-Shûfiyyah fî Mîzân al-Kitâb wa al-Sunnah, dalam Sufi Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (terj) Abu Abdul Aziz, 2002: 27-28).
Ketiga, hadits-hadits ide “Nur Muhammad” di atas sangat bertentangan dengan ayat Al-Qur’an, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (Qs. Al-Anbiyâ’: 30).
Keempat, hadist yang senada dengan, “Anâ Min Allâh wa al-`âlam minnî” adalah hadits yang berbunyi, “Anâ Min Allâh, wa al-mu’minûn minnî, wa al-khairu fiyya wa fî ummatî ilâ yaumi al-qiyâmah” (Aku berasal dari Allah, dan orang-orang Mukmin berasal dari aku. Kebaikan itu ada dalam diriku dan umatku sampai hari kiamat). Ibnu Hajar berkata, “Lâ ‘arifuhû” (Aku tidak mengetahui hadits ini), (Imam Syaukânî, al-Fawâ’id al-Majmû`ah fî al-Ahâdîts al-Mawdhû`ah, 2002: 291).
Dengan demikian, ide “Nur Muhammad” adalah ide yang ditolak dan tidak dapat diterima.
KOS dan Penyesatan Tersembunyi
KOS mengaku berdiri pada tanggal 17 September 1997. Meski mengaku sebagai penganut gereja, tapi KOS belum mempunyai Imam dan Gereja. Padahal untuk jadi anggota resmi jemaah KOS, harus melalui prosedur pembaptisan seorang imam.
Dalam misinya, KOS selalu mengaku semua atributnya mirip dengan simbol Islam. Menggunakan jubah, kofiah, gamis, surban, keru-dung, rebana. Mereka juga memuji Tuhan dengan bahasa Arab.
Rukun ibadahanya bahkan hampir sama dengan Islam. Ada ruku’ dan sujud. Bedanya bila kaum muslim diwajibkan shalat lima kali dalam sehari semalam, peng-anut KOS tujuhkali.
Karena itu, tulisan Bambang Noorsena, yang berusaha untuk mengedepankan superioritas Yesus atas Muhammad lewat ide “Nur Muhammad” sama sekali tidak berdasar.
Tulisannya yang ingin menunjukkan adanya hubungan antara Yesus sebagai Firman Allah dan ide “Nur Muhammad” dalam tasawuf Islam bisa jadi sebagai bentuk dan usaha penyesatan tersembunyi.
*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir, Fakultas Ushuluddin-Jurusan Tafsir.
beltazar:
berikut ini adalah cuplikan tulisan bung Bambang
Quote
Al-Masih Juruselamatku,
Muslim Sahabatku
Oleh : Bambang Noorsena
Akar Sosial/Politik:
Bangkitnya Sebuah Nasionalisme Semitik/Arab
Melawan
Hegemoni Yunani (Hellenisasi )
Eksistensi gereja-gereja oriental (Coptic, Syria dan Abisinia/Etiopia) yang kemudian melepaskan diri dari dominasi kebudayaan Yunani, dimulai dari penolakan mereka atas Majma’ (konsili) Kalsedonia tahun 451. Banyak sejarahwan barat sekarang sepakat, termasuk Prof. W. Montgomery Watt.4) bahwa penolakan mereka atas konsili tersebut, ternyata lebih didorong oleh faktor politik/budaya melawan hegemoni Yunani yang menyangga gereja arus utama, ketimbang menolak secara seksama formula kristologinya.
Pihak Byzantium, untuk secara politis terus mengontrol wilayah gereja-gereja di Timur Tengah itu, lalu menempatkan “patriarkh-patriarkh boneka” mereka setelah menaniaya secara kejam gereja-gereja tersebut. Dalam kasus Gereja Syria, melalui tangan besi Kaisar Yustinus I setelah mengasingkan Patriarkh Severus Al-Kabir ke Mesir dan 40 Uskup Syria, yang juga diusir dari wilayah yurisdiksinya, telah ditempatkan berturut - turut : Paulus, yang dijuluki si Yahudi (yang kemudian dipecat tahun 504), lalu digantikan Aphrodius bin Malah (wafat 529 dalam suatu kebakaran kota Anthiokia). Selanjutnya Kaisar mengangkat Efraim, mantan Gubernur Syria, menggantikannnya sebagai Patriarkh. Bersamaan dengan perebutan tahta suci Anthiokia, sejumlah gereja dan biara-biara Syria telah dirampoknya paksa.5) Baru tahun 543 setelah Mar Ya’qub Bar Addai ditahbiskan menjadi uskup agung Al Raha (Eddesa) oleh Patriakh Theodosius dari Alexandria yang sedang mengalami pembuangan di Konstantinopel, gereja Syria diorganisir kembali dengan susah payah setelah diporakporandakan oleh kekuatan Kristen Yunani. Menurut Montgomery Watt, perlawanan Kristen Semitik terhadap imperium penjajah Byzantium itu, tidak sungguh-sungguh mengalami keberhasilan,sampai datangnya pasukan Arab Muslim dari selatan.6).
Dalam hal ini sikap Gereja Syria justru mendukung pasukan Arab-Muslim dalam melawan penguasa asing Byzantium, kendati seagama dengan mereka. Fakta sejarah mencatat, dalam peperangan melawan pasukan Byzantium, ketika pasukan Arab-Muslim memasuki lembah yordania di bawah pimpinan Abu Ubaidah, penduduk Arab Kristen menulis surat kepadanya : “Saudara-saudara kami umat Islam, kami lebih bersimpati kepada saudara ketimbang orang-orang Roma/Byzantium, meskipun mereka seagama dengan kami. Karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih berbelas kasih kepada kami dengan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan tidak adil. Pemerintah Islam lebih baik ketimbang pemerintah Byzantium, karena orang-orang Byzantiun itu telah merampok harta-harta dan rumah kami”.7) Juga dalam perang Jembatan (tahun 13 Hijrah) melawan pasukan Byzantium di bawah Kaisar Heraklitus, ketika pasukan Islam dibawah pimpinan Mussanah terjebak diantara sungai Efrat dan daerah Persia, tanpa diduga-duga seorang pemimpin Arab Kristen dari suku Tayy menggabungkan diri dan memberikan bantuannya dengan cara mempertahankan jembatan perahu, satu-satunya jalan mundur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Dan ketika pasukan Byzantium melancarkan serangan lagi, maka datanglah bantuan kepada pasukan Islam dari suku Arab Kristen Bani Namir, yang mendiami daerah perbatasan Byzantium. Demikian juga dalam pertempuran Buwayib yang berakhir dengan kemenangan Islam, Mussanah tampil ke depan dan berbicara kepada suku Arab Kristen : “Kalian satu darah dengan kami, karena itu marilah kita maju bersama, memenangkan pertempuran ini.”8) dalam kasus yang serupa, sekarang dapat dibandingkan dengan dukungan orang-orang Arab Kristen, seperti George Habash dan Hanan Asrawi, terhadap perjuangan Palestina di bawah Jesser Arafat, menghadapi Israel.
Kembali dalam kasus posisi gereja-gereja oriental (Syria dan Kupti) : antara pasukan Arab-Islam dan imperium Kristen Byzantium, dari sudut sosial/ politik justru mereka memilih berjuang bersama-sama Islam. Jadi, tidak ada sesuatupun secara politis hilang dari mereka, malah Islamiah yang justru membebaskan mereka dari penindasan Kristen Byzantium ketika itu. Jadi berbeda dengan Gereja Barat (Roma/Byzantium) yang salah satu faktor yang melatarbelakangi sikapnya yang konfontatif dengan Islam karena akar politik ini, maka tidaklah demikian dengan Gereja-gereja Arab, yang sampai sekarangpun eksistensi mereka berada di bawah pemerintahan Islam. Justru di kalangan Kristen Orthodox Syria, dikenal sebuah slogan :” Segala Puji bagi Allah (Al-Hamdu li’l-Lah) yang telah membebaskan kami dari kekuasaan Kristen Yunani yang menindas kami, kemudian menempatkan kami dibawah penguasa Arab Muslim.9) Sebab harus diakui, penguas Arab-Muslim memang menjamin keselamatan jiwa, harta, gereja, dan salib-salib mereka seperti dijamin dalam piagam yang dibuat Nabi Muhhamad dan sahabat-sahabatnya.10) sayang sekali, jatuhnya dinasti Abbasiyah ke tangan berbagai sulthan Muslim non- Arab, khususnya pada masa kekuasaan Ottoman, gereja-gereja Arab mengalami masa-masa serba tidak pasti dan mereka kehilangan banyak sekali anggotanya, akibat diberangusnya kebebasan beragama dan tidak diindahkannya lagi piagam Nabi Muhammad dan perlindungannya terhadap Ahl Ad Dimmiy (kaum minoritas yang dilindungi). Jaminan dan perlindungan Nabi Muhammad terhadap orang-orang kristen : harta, nyawa, gereja-gereja dan salib-salib mereka antara lain diakui sumber-sumber Islam maupun Kristen sendiri, seperti ditulis oleh Philip de Tarazi dalam bukunya berjudul : The Golden Era of Syrian.11)
beltazar:
dan lucunya juga bagi beberapa orang di kalangan Kristen, bung Bambang dianggap aliran Kristen sesat
berikut cuplikannya
Quote
GEREJA ORTHODOX SYRIA
versi BAMBANG NOORSENA
oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.
Kesimpulan:
1) Bambang Noorsena adalah seekor bunglon yang selalu menyesuaikan ajarannya dengan orang-orang kepada siapa ia berkhotbah. Ini menyebabkan ia kadang-kadang kelihatan lumayan baik. Ini juga yang menyebabkan ia sangat berbahaya.
2) Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena adalah gereja sesat, dan Bambang Noorsena adalah seorang nabi palsu, karena Gereja Orthodox Syria / Bambang Noorsena salah dalam banyak persoalan dasar dari kekristenan.
Dalam persoalan adanya banyak orang Kristen yang menyebut Gereja Orthodox Syria sebagai sesat, Bambang Noorsena mengatakan: ‘Nenek moyangnya sendiri dikatakan sesat?’. Jadi kelihatannya ia mempunyai motto ‘right or wrong my ancestors’ (= benar atau salah nenek moyang saya).
Terhadap kata-kata ini saya ingin menjawab dengan mengutip suatu bagian Kitab Suci, yaitu dari Ul 13:6-11 yang berbunyi: “Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Maka seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu”.
Dengan mengutip text ini saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa text ini harus dilakukan secara hurufiah, yaitu dengan betul-betul menghukum mati penyesat tersebut, karena ini merupakan hukum negara pada saat itu, yang tidak harus diberlakukan di tempat lain dan pada jaman yang berbeda.
Tetapi saya mengutip text ini dengan maksud untuk menekankan bahwa dalam persoalan kesesatan, kita tidak boleh mengenal keluarga. Kita harus mengasihi Kristus lebih dari keluarga (Mat 10:37 Luk 14:26), dan karena itu jika ada keluarga dekat yang sesat, kita harus tetap mengecam dan bahkan menjauhi dia (setelah menasehatinya - Tit 3:10). Apalagi kalau yang disebut keluarga itu adalah nenek moyang yang jauh, apalagi hanya dalam arti rohani. Karena itu tidak peduli Gereja Orthodox Syria adalah nenek moyang atau bukan nenek moyang, mereka tetap harus dikecam karena kesesatannya!
Pdt. Yusuf Rony, dulunya bergabung dengan Gereja Orthodox Syria, dan memujinya secara luar biasa. Tetapi belakangan ia lalu meninggalkan Gereja Orthodox Syria. Dan majalah Narwastu bulan Juni 2000, hal 18, menuliskan tentang Pdt. Yusuf Rony sebagai berikut:
“Beberapa bulan setelah memproklamirkan diri sebagai pemeluk Orthodox, dalam wawancara khusus dengan Narwastu ia menyatakan telah keluar dari Orthodox. Bahkan dengan tegas ia mengatakan bahwa masuknya dia ke Orthodox merupakan kesalahan besar. ‘Dari pada sesat, lebih baik saya bertobat. Saya tetap Protestan, … “.
Saudara bukan hanya wajib menjauhi Gereja Orthodox Syria dan tidak mendukungnya, tetapi juga memperingatkan / memberitahu orang-orang yang disesatkan oleh gereja ini!
Dan bagi Bambang Noorsena dan kelompoknya, saya ingin mengingatkan kata-kata Tuhan Yesus dalam Mat 18:7 - “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya”.
beltazar:
berikut ini adalah cuplikan surat terbuka dari salib.net oleh bung Bambang
Quote
Surat Terbuka Bambang Noorsena
Untuk Saudara-saudara Seiman
Di Tanah Air
Shalom Aleikhem, Assalamu ‘alaikum!
Tahiyatan Thayyibatan Amma Ba’du:
Saudara-saudaraku seiman, telah banyak tenaga kita tercurah untuk menanggapi
hujatan sia-sia kaum “Penentang Allah” pada tahun-tahun terakhir ini. Mereka
sudah hambur-hamburkan banyak dana untuk mencetak “Alkitab bajakan” dari
terjemahan LAI (karena mereka hanya membuang istilah “Allah”, dan memakai
seluruh terjemahan ini)? Tetapi seluruh argumen-argumen mereka dangkal, dengan
pencomotan referensi tanpa membaca penuh konteksnya, pengutipan harfiah
ayat-ayat Alkitab tanpa melihat latar belakang historis, bahkan semua data
archeologis dan filologis keserumpunan bahasa-bahasa semitik yang saya ajukan,
mereka
jawab sekenanya dengan membenturkan secara harfiah dengan ayat-ayat Alkitab,
tanpa exegese yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Mereka tetap ngotot berkata Allah itu “dewa air”, “dewa bulan”, tanpa
menanggapi argumentasi saya mengenai pemakaian istilah “Allah” di lingkungan
Yahudi dan Kristen dalam makna yang sama sekali berbeda dengan diberikan kaum
jahiliyah Mekkah pada masa pra-Islam. Tentang bukti-bukti inskripsi Kristen
Arab pra-Islam yang memakai istilah
Allah, sudah saya buktikan lengkap dengan foto-foto inskripsi itu, antara lain
sebagai berikut:
1.Inskripsi Zabad tahun 512 M, yang diawali dengan: Bism al-Ilah (Dengan Nama
Allah), lengkap dengan tanda salib yang menujukkan asalnya dari lingkungan
Kristen;
2.Inskripsi Umm al-Jimmal dari pertengahan abad ke-6 M, yang diawali dengan
ungkapan: Allahu ghafran (Allah Yang Mengampuni).
3.Inskripsi lain, seperti Hurran al-Lajja dari tahun 568 M, dan seluruh
inskripsi Arab pra-Islam yang semua berasal dari lingkungan Kristen.
Tentang bukti-bukti yang saya kemukakan ini, mereka berkata bahwa argumentasi
saya tidak berdasarkan ayat-ayat Alkitab. Saya tidak mengerti jalan pikiran
mereka. Di satu pihak mereka menuduh saya seperti itu, tetapi di pihak lain
mereka mendasarkan argumentasi pada
kutipan dari buku ini dan buku itu, yang juga bukan Firman Tuhan untuk menolak
istilah Allah. Tampaknya, mereka sudah mempunyai pra-paham dari ayat-ayat
Alkitab yang mereka tafsirkan menurut kepentingan mereka, lalu mereka cari-cari
berbagai kutipan untuk meneguhkan pra-paham mereka. Bahkan, dari
traktat-traktat mereka juga mereka cantumkan gambar-gambar patung dari
dewa-dewi pra-Islam yang tidak jelas kaitannya langsung dengan argumentasi yang
mereka ajukan.
Di pihak lain, mereka memaksakan pemakaian nama Yahwe, yang mereka katakan
“sembahan kaum Yahudi dan Kristen”, dan mereka lalu memaksakan pencantuman
kembali nama itu dalam Perjanjian Baru. Padahal dalam teks asli Perjanjian
Baru, nama itu diterjemahkan menjadi “Kurios” (Tuhan). Pernah Sdr. Teguh
Hendarto, salah seorang dari kaum “Penentang Allah” itu, mengatakan kepada
saya: “Memang dalam teks Yunani tidak ada nama Yahwe, tetapi belum tentu teks
Yunani itu asli, mungkin kalau teks Ibrani ditemukan, nama Yahwe pasti ada”.
Argumentasi ini tentu saja konyol, bagaimana mungkin mereka sudah begitu yakin
mengajukan teori mereka, sementara “masih menunggu bukti teks asli Ibrani”
ditemukan? Hal ini dilakukakan mereka, karena mereka kepepet.
Betapa tidak? Perjanjian Baru Ibrani yang mereka kutip dalam berbagai traktat
mereka itu, jelas-jelas disebutkan bukan teks asli, bahkan jelas-jelas pula
disebutkan bahwa itu hasil terjemahan dari bahasa Yunani. Sedangkan dalam
seluruh teks asli Yunani nama Yahwe
diterjemahkan Kurios, kecuali Haleluyah (Pujilah Yah/Yahwe) dalam Kitab Wahyu,
karena ini sebuah seruan doa. Mereka menolak istilah Allah karena argumentasi
mereka, bahwa Allah pernah disembah di Ka’bah pada zaman pra-Islam bersama
dewi-dewi Mekkah, lalu saya mengajukan bukti bahwa nama Yahwe pun juga pernah
disembah bersama-sama dewi
kesuburan Palestina (inskripsi Qirbeth el-Qom dan inskripsi Kuntilel Ajrud).
Tetapi apakah ini berarti Yahwe “dewa dari agama kafir?” Tetapi jawaban mereka,
sudah dapat diduga. “Itu kan sinkretisme di Israel pada zaman itu?”, tulis
mereka. Ini jelas tidak fair. Sebab bukankah Allah dipuja bersama dewi-dewi
Mekkah itu juga hasil sinkretisme? Dan
karena itu pula, tidak mewakili pandangan teologis Islam atau Kristen Arab,
karena makna seperti itu (Allah sebagai dewa kafir) tidak ada dalam al-Qur’an
dan Injil berbahasa Arab. Satu lagi mereka menolak perbandingan fakta yang saya
kemukakan di atas. Alasan mereka, dalam Islam Allah adalah “nama diri” (the
proper name). Untuk itu mereka mengutip terjemahan-terjemahan al-Qur’an dalam
bahasa Inggris yang menanggap bahwa Allah itu “The proper name”, sehingga tidak
bisa diterjemahkan. Padahal, tidak semua umat Islam berpandangan seperti itu.
Faktanya, ada umat Islam yang menanggap Allah itu “nama diri”,
karena itu ghayr al-musytaq (tidak punya asal-usul dari kata lain), tetapi ada
pula yang menanggapnya musytaq (berasal dari kata al-Ilah).
Karena kedangkalan dan kemiskinan data yang mereka ajukan, saya menganggap
tidak perlu berdiskusi dengan mereka.
Saya tidak terkejut, ketika membaca bahwa ada “segelintir umat Islam” dari
Wonosobo mengajukan protes kepada LAI soal keberatan mereka istilah Allah
tercantum dalam Alkitab. Pada bulan Juli lalu, ketika saya sempat pulang ke
Indonesia, saya membaca juga keberatan serupa diajukan oleh seorang Muslim,
yang kalau tidak salah dari salah satu pimpinan Paguyuban Pencak Silat. Ya,
tidak perlu ditanggapi. Bagaimana guru Pencak Silat mengerti keserumpunan
bahasa-bahasa Timur Tengah.
Tentu saja, mereka sangat awam untuk berbicara mengenai soal-soal filologi
sepelik ini. Munculnya “Kelompok Mubaligh Wonosobo” ini, yang malah
mencantumkan judul surat mereka kepada LAI dengan “Peringatan Keras!”, membuat
saya bertanya-tanya: “Apa-apaan lagi ini?”
Teman-teman Muslim Wonosobo ini, jelas-jelas tidak paham ayat al-Qur’an yang
tegas-tegas menyebutkan:
Alladzina ukhrijuu min diyarihim bi ghairi haqqin illa ‘an yaquluu Rabuna
llahu,wa lau laa daf’u llahin nnaasa ba’dhuhum ba’dhin lahudimat shawami’u wa
biya’un wa shalawatun wa masaajidu yudhkaru fiihasmu llahi katsiran, wa
liyanshurana llahu min yanshuruhu.
Innallaha laqawwiyyun aziiz.
Artinya: Orang-orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang
benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami adalah Allah. Dan seandainya
Allah tidak mencegah keganasan manusia atas manusia lainnya, tentu-lah telah
dirobohkan biara-biara,
gereja-gereja, sinagoge-sinagoge dan masjid-masjid yang didalamnya banyak
disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong
(agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Perkasa (Q.s.
Al-Hajj/22:40).
Bagaimana mungkin mereka menuntut orang Kristen untuk tidak menggunakan istilah
Allah, sedangkan al-Qur’an sendiri menyaksikan bahwa dalam gereja-gereja,
biara-biara, sinagoge-sinagoge dan masjid-masjid nama Allah sama-sama
di-agungkan? Mereka ini benar-benar
tidak memahami sejarah. Cobalah mereka berkunjung ke negara-negara Arab
(kecuali Arab Saudi yang tidak boleh ada komunitas non-Islam).
Mereka akan berjumpa bahwa orang-orang Kristen dan Muslim sama-sama menggunakan
istilah Allah, meskpun secara teologis mereka memahaminya secara berbeda.
Saya menulis surat terbuka ini dari Kairo, tempat dimana saya sekarang tinggal,
dan sehari-hari saya berbicara, belajar, berdoa dan mengaji Injil di Gereja
Ortodoks Koptik dalam bahasa yang sama dengan saudara-saudara umat Islam.
Bahkan saudara-sauradaku dalam Tuhan,
kalau anda mengunjungi Kairo Kota Lama (Al-Qahirah al-Qadimah), anda akan
menyaksikan di pintu Gereja “Al-Mu’alaqqah” (Haging’s Church) dipahatkan
kaligrafi Arab yang indah: Allah Mahabah (Allah itu Kasih), dan juga di pintu
yang lain: Ra’isu al-Hikmata Makhaafatu llah
(Permulaan Hikmat adalah Takut kepada Allah).
Dari Gereja “al-Mu’alaqqah”, anda bisa melewati sebuah Gereja “Abu Sirga”, –
yang dahulu pernah tinggal “Keluarga Kudus” (Siti Maryam, Yesus Putra-Nya, dan
Yusuf al-Najjar) sewaktu pengungsian mereka ke Mesir, — dan akan menemukan
juga sebuah sinagoge Yahudi “Ben Ezra”.
Di sana anda bisa membaca data-data, bagaimana dahulu Rabbi Moshe Ben Ma’imun
menulis buku-buku agama Yahudi dalam bahasa Ibrani dan Arab, antara lain 2
bukunya yang terkenal:
1.Al-Mishnah , yaitu Hukum Fiqh Yahudi , dalam bahasa dan huruf Arab);
2.Dalilat el-Hairin (Panduan Untuk Kaum Yang Kebingungan), dalam bahasa Arab
tetapi beraksara Ibrani.
Dalam kedua buku ini, nama Allah dipakai untuk menerjemahkan El dan Elohim.
Sedangkan ungkapan Allahuma juga sering muncul untuk menerjemahkan kata Elohim
dalam konteks doa. Selanjutnya, kalau anda keluar dari kompleks gereja-gereja
kuno tersebut, anda segera
menyaksikan Masjid ‘Amr bin al-’Ash. Pada sore hari, anda akan biasa mendengar
gema adzan, dan “Taranim Mazamir” (mazmur-mazmur yang dikasidahkan) dan
“Mulahan Injil” (yaitu pembacaan Injil secara tartil, tilawat). Dalam
keseharian, disana gema adzan Allahu akbar, Allahu akbar (Allah Maha Besar,
Allah Maha Besar), dan Shadaqallahul
adzim (Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya) menutup Pembacaan al-Qur’an,
terdengar bersama-sama dengan pujian Trisagion: Quddusullah, Quddusul Qawwi
….(Kuduslah Allah, Kuduslah Yang Maha Kuasa……), dan Al-Majdu lillahi
daiman (Kemuliaan Bagi Allah senantiasa), yang biasanya menutup Pembacaan Injil.
Sebelum tahun 1973 (perang Mesir-Israel) bahkan umat Yahudi, Kristen dan Islam
hidup bersama, dan bahasa Arab juga dipakai oleh umat Yahudi disamping bahasa
Ibrani. Jadi, tidak mungkin kita mengkotak-kotakkan agama berdasarkan bahasa:
Yahwe (bahasa Ibrani) sembahan Yahudi dan Kristen, dan Allah (bahasa Arab)
sembahan Muslim. Apakah mereka itu takut imannya kabur, karena kesamaan bahasa?
Umat yang dewasa adalah umat yang tidak takut dikaburkan. Mereka yang takut
dengan kekaburan, itu berarti imannya sendiri masih kabur. Sudah jelas Tilawat
al-Qur’an berbeda dengan Tilawat/Mulahan Injil, Dua Kalimat Syahadat berbeda
dengan Qanun al-Iman (Pengakuan Iman Kristiani), apalagi kata
“Allah” yang di sepanjang sejarah ketiga rumpun agama-agama semitik (Yahudi,
Kristen dan Islam) tidak pernah menjadi masalah, sampai munculnya kaum yang
berpandangan “hitam-putih” terse-but. Untuk itulah, bersama ini saya kirimkan
salah satu artikel saya “Menjawab
Hujatan Para Penentang Allah”, yang saya kutip dari buku saya: Menuju Dialog
Teologis Kristen-Islam (Yogyakarta: Yayasan Andi, 2002).
“Wa ‘ala kulli hal….”, kiranya Surat Terbuka ini dapat membantu anda semua
dalam menyikapi secara cerdas segala propaganda dangkal mereka. Wal takun
‘alaikum jami’an Ni’matu Rabbina Yasu’ al-Masih wa Mahabatu llahi wa syarikatur
Ruhil Quddus, Amien. (May the grace of our Lord Jesus Christ and the love of
God and the fellowship of the Holy Spirit
be with you all, Amen).
Bambang Noorsena
Madinat al-Tahrir, Cairo, 9 Nopember 2004.
Jumat, 26 Maret 2010
berdoa
saatku tidur pun Engkau selalu menunggu aku berbicara padaMu
Engkau selalu ada disetiap langkahku, biarpun jlnku berbatu dan aku sulit untuk mendakinya, Engkau selalu memberikan sport untuk aku sampai diatas, krn diatas sana Engkau t'lah menanti aku
Jika Kamu
Jika kamu mencintai Yesus, kamu akan memperoleh kasih sejati yang tidak akan pernah habis dibagi-bagi
Jika kamu mengejar kekayaan, kamu akan kehilangan uang
Jika kamu mengejar Yesus, debu-debu dan kerikil dari Surga akan diutus-Nya untuk menjadi milikmu
Jika kamu mencari kebahagiaan dari dunia, kamu akan kekeringan
Jika kamu mencari Yesus, kamulah sumber kebahagiaan bagi dunia
Jika kamu ingin merubah seseorang atau keadaan sesuai keinginanmu, kamu akan kecewa
Jika kamu ingin dirubah oleh Yesus menjadi seperti yang Dia ingini, orang lain dan keadaan disekelilingmu yang akan mengikutimu
Jika kamu ingin dikenal oleh dunia, kamu bisa dihina
Jika kamu ingin dikenal oleh Yesus, dunia akan mengenangmu
Jika kamu mengagumi seseorang atau sesuatu, kamu bisa diperbudak oleh mereka
Jika kamu mengagumi Yesus, kamu akan menjadi sabahat, saudara, dan anak bagi-Nya
Jika kamu menggenggam erat segala milikmu di bumi, semuanya akan meninggalkanmu seorang diri
Jika kamu menggenggam erat Yesus, segala milikmu akan selalu terikat di bumi dan di Surga
Matius 16:19, "Kepadamu akan Kuberikan Kunci Kerajaan Surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga"
sumber:gfreshmag
Kamis, 04 Maret 2010
KesukaanMu
Senin, 01 Maret 2010
kesal, kecewa dan sedih

dalam sebulan ini hatiku sedih, kesal dan marah semuany bercampur aduk dan menyesakkan dada. ingin rasa teriak tapi tak mampu ku lakukan.saya hanya bisa menangis dalam kesendirianku.
mengapa ada org2 yg ng adil dan selalu mencari-cari alasan untk kepentingan diriny sendiri?karena kesalahan pihak lain, org lain dilibatkan. ini ng adil bagiku.aku masih mau hidup untuk beberapa lama lagi dan mencapai cita-citaku.
adilkah ini bagiku, aku marah tapi pada siapa aku harus marah? aku kecewa pada siapa kekecewaanku ini?
RSS Feed 







